- Home>
- Loli girl *c*
Custom Story from Manga Ibitsu
LollyGirl (1)
Aldi melompat dengan santai sembari melempar bola yang langsung melayang menuju ring di daerah lawannya. 3 point shoot. Bola masuk ke dalam ring dengan mulus tanpa terhalang apapun.
“Keren, Al. Harusnya kamu ikut seleksi pemain basket kota, kamu maennya bagus gitu, bahkan lebih bagus dari beberapa pemain tingkat kota kita.” Nathan meranggul pundak sahabatnya itu.
“Aku sibuk, Than. Tidak ada waktu buat ikut latihan kalian yang super padat itu. Lagian Basket cuma jadi hobi aja kok.” Mereka bersiap dengan posisi kembali. Sebuah counter attack lawan dapat dipatahkan dan mereka terus menyerang sampai akhirnya bel masuk berdering.
“Kalo maen basket, g kerasa ya. Istirahatnya cepet banget.” Aldi melempar handuk ke arah Nathan yang dengan sigap menangkapnya, lalu kembali menatap pagar di sisi timur lapangan.
”Lihat apa, Than? Serius banget.” Aldi ikut menoleh, mencari dimana mata Nathan terpaku. Bukan hal susah menemukan gadis berpakaian model lolly yang serba hitam, mulai dari pita rambut, baju, bahkan kaos kaki, semuanya berwarna hitam, sedang memeluk boneka beruang yang besar di dadanya.
“Suka ama tu cewek, Than?” Tanya Aldi melihat sahabatnya seolah terhipnotis.
“Aku memperhatikannya dari tadi, dan dia tidak beranjak dari tempat itu. Hanya saja kepalanya ikut bergerak mengikuti gerakanmu, Al. Kayanya dia tertarik sama kamu. Dan menurutnya tidak aneh melihat gadis berpakaian seperti itu di cuaca yang panas ini? Dan jenis pakaiannya, bergaya gothic Lolly jepang. Tidak umumkan?” Nathan melihat sahabatnya bingung.
“Ya udah sih, selera pakaian sendiri-sendiri. Naksir kamu kali, Than. Aku sama kamu kan lebih keren kamu.” Aldi tertawa sambil menarik sahabatnya itu naik tangga menuju kelas mereka.
***
Aldi menghabiskan jam istirahat keduanya dengan duduk di mejanya, memperhatikan Iriana yang sedang menulis catatan di meja belakang, kemudian beranjak mendekati gadis itu.
” Rin, lagi nulis apa?”
Iriana mendongak, menatap wajah manis Aldi lalu tersenyum.
”Hanya catatan yang terlewat tadi.” Aldi menikmati lengkungan senyum Irianna, ia tahu bagaimana perasaannya.
”Ntar pulangnya bareng mau ga?”
”hm... sory, tapi aku ada janji mo jalan ke Galeri sepulang sekolah nanti sampa Mila. Gimana dunk” Irianna mengigit bibirnya, merasa tidak enak harus menolak Aldi, tapi justru wajah seperti itu membuat Aldi makin menyukainya, ia terlihat sangat lucu.
”O, ydah, gapapa, daripada harus batalin janji ke Mila. Ntar aku yang ngrasa ga enak.” Mereka tertawa. Membiarkan masing-masing menikmati keceriaan sesaat itu.
”Gimana kalau besok?”
Irianna membuka kesempatan, Aldi langsung mengangguk dengan senyuman baru. Tak henti-hentinya ia tersenyum, sampai sudut matanya melihat ke luar jendela. Wajahnya menegang. Gadis lolly itu sekarang berdiri di pagar depan sekolahnya, tak bergerak, dan terus menatapnya. Ya, menatapnya langsung ke lantai 3 gedung ini. Padahal jika orang menatap gedung ini dari bawah, hanya akan terlihat bangunan dan kaca gedung. Siluet orang pun tak akan terlihat.
”Ada apa?” Irianna menyadari perubahan wajah Aldi, lalu berdiri, melihat keluar jendela.
”Tidak apa-apa. Aku hanya merasa aneh dengan gadis lolly itu. Sejak kami bermain basket waktu istirahat pertama tadi, dia seolah memperhatikan kami, atau aku. Dan cara ia melihat kesini, seolah dia dapat melihat aku di lantai ini.”
”Tidak mungkinlah, Al. Kecuali dia pakai teropong. Tu lihat, dia tidak pakai teropong, jadi tidak mungkin dia tahu kamu ada disini. Mungkin dia sedang melihat-lihat bangunan sekolah kita saja.” Irianna menengan, lalu kembali duduk di kursinya, meneruskan mencatat. Bagitu juga Aldi, tapi pikirannya masih tak beranjak dari gadis lolly itu. Ada yang aneh dengan orang itu.
***
Aldi tersenyum melihat Irianna melambaikan tangan saat berjalan keluar sekolah bersama Mila. Sekilas tangannya diarahkan kesisi telinganya, memberi kode untuk menelponnya dan di ikuti oleh anggukan kepala Aldi. Ia berjalan beriringan dengan Nathan, senyumannya menulikan telinga dari cerita-cerita konyol Nathan.
”Oi.... kamu dengar ga, Al. Wah, ilang kemana pikiranmu.” Nathan mendegus begitu sadar Aldi tidak menanggapi sedikitpun ceritanya.
”He ...sory, Than. Aku sedang mendekati Irianna dan sepertinya mendapat respond positif”
”Iyalah, udah lama kan kamu deket sama Irin. Dan sepertinya dia juga menyukainya, Al. Mungkin kau harus mulai mengungkapkan perasaanmu.” Nathan memberi semangat.
”Ya... rencananya besok aku ungkapkan. Harusnya tadi, tapi dia ada janji jalan sama Mila. Nanti malam aku akan telfon dia.”
Tiba-tiba Nathan berhenti. Raut wajahnya mulai aneh, dan Aldi segera tahu alasannya. 5 Meter di depan mereka berdiri gadis berpakaian lolly serba hitam itu. Dari jarak sedekat ini, ia terlihat manis. Entah kenapa mereka berdua merasa aura yang tidak menyenangkan, bau busuk yang menyengat. Mereka tak bergerak, tak ada yang berani bersuara.
Gadis lolly itu mulai melangkah mendekat. Nathan berusaha mundur, tapi badannya seperti tak bisa bergerak. Gadis itu berhenti setengah meter dari mereka, lalu mencondongkan kepalanya mendekat ke Aldi. Bau menyengat semakin terasa.
”Kak Aldi, Aku menyukaimu. Mau menjadi pacarku?” Gadis itu bertanya tiba-tiba dengan nada datar dan terasa dingin, membuat mereka berdua terkejut. Namun mereka tak ada yang bisa bergerak, bahkan berbicara. Gadis itu mengulangi pertanyaannya dengan kalimat yang sama dan nada bicara yang sama. Kali ini mereka bisa bergerak dan segera menjauh.
”Kamu gila ya!” Aldi berseru, kemudian berlari pergi, di ikuti Nathan. Entah siapa gadis itu, tapi tatapan dan cara bicaranya yang dingin, serta bau menyengat itu membuat mereka merasa tidak tenang.
Malamnya Aldi berusaha menelfon Irin, tapi tak ada yang menjawab meskipun beberapa kali menelfon. Mungkin Irin sudah tidur, Aldi berfikir positif meskipun jam baru menungjukan pukul 20:00. Atau dia tidak mau menerima telfon dariku? Ia bergulat dengan pikirannya sendiri. Akh sudahlah, kalau ketiduran juga besok pagi dia akan mengirimiku pesan. Ia memilih tidur, tapi gadis berpakaian lolly itu terus terbayang, bahkan seolah-olah ia mencium bau menyengat itu dikamarnya.
0 komentar