• Posted by : Zahra Aisha Dana Jumat, 07 November 2014

    “Bagaimana kalau kita kesana sekarang?” kata Brian sambil mengayun-ayunkan pipa besi yang dibawanya.

    “Tunggu sebentar, Brian. Kita harus melihat suasana dan keadaan agar serangan kita berjalan lancar.”

    “Oh, ayolah Wisnu. Kau sekarang terdengar seperti pengecut.” Sahut Michael. Ludwina dan Kristanto terdiam mendengar percakapan ini. Wow. Selamat wisnu, sekarang teman-temanmu bersikap sok seperti pahlawan super. Sial, kalau mereka semua seperti ini , maka akan lebih banyak lagi nyawa yang akan kulindungi. Sebenarnya aku ini bukan seorang pengecut, tapi seseorang yang selalu menggunakan logika. Ini dunia nyata, bukannya sebuah game yang bisa di restart atau menunggu respawn agar kita bisa bangkit lagi. Jika kita mati, maka tidak ada kesempatan lagi. Kami berenam mulai masuk kedalam rumah itu. Terlihat seorang pria yang sedang asik meminum secangkir teh. Siapa lagi kalau bukan E. Game. H. T. Dia dilayani oleh dua wanita yang cantik jelita. Mereka berdua terlihat kembar.

    “Jadi kalian ingin menemui tuan kami agar kalian bisa bertemu dengan teman kalian itu?” tanya kedua wanita itu. Sang pesulap berdiri dan tersenyum kearah kami. Dia menaruh topinya diatas meja dan berjalan perlahan meninggalkan kami. “Maaf, tuan kami tidak bisa menemui kalian. Tetapi kami berdua bisa melayani kalian selagi tuan kami pergi.” Sambung kedua wanita itu sambil mengeluarkan sebilah pedang dan palu dari topi sang pesulap. Mereka berdua berlari kearah kami. Ini lebih berbahaya dari yang sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi, kami berenam harus membunuh kedua wanita itu bagaimanapun caranya.

    Kami berenam memasang kuda-kuda dan bersiap menerima serangan mereka. Aku merasakan sesuatu yang aneh dari tubuh Gabriel. Wajahnya berubah 180 persen. Kini pandangannya seperti singa yang hendak menerkam mangsanya. Aku pernah energi dari orang yang ingin balas dendam lebih kuat dari pada energi apapun. Tanpa banyak bicara, Gabriel berlari ke salah satu wanita itu dan melesatkan balok kayu kearah kepala. Sial, semua temanku membawa senjata yang sangat pas untuk keadaan seperti ini. sedangkan aku hanya membawa gunting. Hanya sebuah gunting. Bodohnya aku ini. kuamati sekitarku dan berusaha mencari apapun yang bisa kugunakan sebagai senjataku selagi teman-temanku berusaha menyerang kedua wanita itu. Gila. Meskipun mereka kembar, tapi kecepatan, kelincahan, dan kekuatan mereka sangat jauh berbeda. Ini mungkin efek dari senjata yang mereka bawa. Ternyata tidak ada senjata yang sangat ampuh disekitar sini.

    Tunggu dulu, ada sebuah kabel lampu dan beberapa kabel elektronik lainnya. Tapi aku membutuhkan satu bahan lagi agar kabel-kabel ini bisa menjadi senjata yang mematikan. Kutekan saklar lampu dan yes, lampunya menyala. Ini menandakan bahwa ada listrik yang mengalir. Tanpa basa basi kusambungkan semua kabel itu menjadi satu. Mungkin gunting ini ada manfaatnya juga. Kulilitkan kabel itu ke bagian logam pada guntingku. Tidak lupa kualirkan listrik pada kabel ini. Michael menatapku dengan seksama, dia menganggukkan kepalanya. Mungkin dia sudah mengerti apa yang kumaksud. Kuhampiri Michael sambil membawa senjata buatanku.

    “Apa kau bisa mengalihkan perhatiannya?” tanyaku sambil menunjuk kearah wanita yang membawa pedang.

    “Bisa saja. Ayo kita buat dia kejang-kejang, Wisnu.” Sahutnya sambil memainkan pipa besinya. Dia segera berlari kearah wanita itu. sedangkan aku memberikan isyarat kepada Ludwina dan Brian untuk membantu Gabriel dan Kristanto. Serangan wanita itu benar-benar sangat cepat hingga membuat temanku ini kewalahan. Lantai keramik ini ukurannya sama dengan lantai yang ada di rumahku. jumlah lantai antara stopkontak dengan wanita itu ada 18 buah. Jika perhitunganku benar, maka jaraknya adalah 5,4 meter. Ini sangat pas, karena kabel yang kupunya panjangnya sekitar 7 meter. Aku berlari menghampiri Michael dan membantunya dari belakang. Aku takut jika dia terjatuh karena tersandung kabel yang kubawa. Wanita itu menebaskan pedangnya kearah Michael, namun serangan itu berhasih ditangkis karena reflek temanku yang sangat cepat. Kesempatan itu kugunakan untuk menancapkan guntingku. Tidak tanggung-tanggung, kutancapkan dalam-dalam hingga tanganku ikut tersetrum walaupun hanya sesaat. Kami bedua melihat wanita itu kejang-kejang. Pendang yang digenggamnya jatuh ke lantai. Dia terbaring dengan keadaan telungkup. Beberapa detik kemudian, wanita itu perlahan-lahan bangkit. Sial, kuat sekali wanita ini. setiap hari dia makan apa sih? Kuambil pedangnya dan menebas kepalanya hingga putus.

    Percikan darahnya mengenai mukaku. Kutengok ketiga temanku yang lainnya. Mereka berhasil membunuh wanita itu. Hhmm... mungkin lebih tepatnya Gabriel yang berhasil membunuh wanita itu. Dia mengambil palu yang dibawa wanita itu. Kini kami berenam berjalan menuju ruangan yang dimasuki oleh Sang pesulap. Sial, kenapa ada ruangan aneh seperti ini lagi? Pria itu duduk disebuah kursi. Dia tersenyum ke arah kami.

    “Dimana kau sembunyikan sahabatku, pesulap amatiran?” bentak Gabriel.

    Dia mengangkat sebuah papan tulis putih berukuran kecil. ‘AKU INI BISU, DASAR WANITA JALANG!!!!’ Kalimat itu ditulis sangat besar pada papan hingga membuat Gabriel geram. Dia menarik kain hitam yang selama ini menutupi sesuatu yang berada dibelakangnya. Kami melihat sebuah meja yang lengkap dengan dua gergaji mesin yang sudah menyala dan siap untuk memotong apapun yang berada didepannya. Diatas meja itu, tergeletak seorang gadis. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Oyi. Kedua tangan dan kaki gadis itu dikunci oleh empat gembok berukuran sedang. Sang pesulap mengambil empat buah kunci dan menelannya secara bersamaan. Lalu dia mengangkat papan tulis putih yang lain yang bertuliskan, ‘KUNCI YANG KUTELAN ADALAH KUNCI YANG BERGUNA UNTUK MEMBUKA GEMBOK YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGUNCI TEMANMU.’ Kemudian dia membalik papan itu. ‘WAKTU KALIAN HANYA 5 MENIT MULAI DARI SEKARANG. BUNUH AKU JIKA KAU INGIN MENYELAMATKAN TEMANMU.’ Itulah yang tertulis pada bagian papan yang lain. 5 menit itu lebih dari cukup untuk membunuh pesulap ini. Aku, Brian, Michael, Kristanto dan Gabriel maju bersama-sama dan menyerang pria itu. Sedangkan Ludwina berusaha untuk membebaskan Oyi. Pesulap itu tersenyum sinis.

    0 komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Raraaa Kawaii Desu Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan