- Home>
- CIRCUS (Part 5)
“Dimana teman kami yang bernama Kristanto?” bentakku.
“Wow wow wow.... santai Wisnu. Mari kita bermain sebuah permainan....” Dia menurunkan dua mayat dan menggerakkannya seperti boneka. Pria itu berjalan mundur selangkah demi selangkah. Lampu perlahan-lahan meredup dan akhirnya padam. Hal yang pertama kali melintas dipikiranku adalah Ludwina. Ya, aku harus melindungi gadis itu. Tanganku mencoba untuk menggenggam tangannya. Dimana dia? Aku masih ingat dia berdiri disampingku. Bagaimana dia bisa menghilang begitu saja di ruangan sebesar ini?
“Ludwina?” teriakku. Lampu tiba-tiba menyala kembali. Pria itu duduk di kursi ditengah-tengah kedua temanku. Ludwina dan Kristanto. Mereka tergantung dengan tangan terikat dan dikelilingi oleh mayat yang bergerak. Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Aku tidak mungkin memotong benang sebanyak itu dengan satu serangan. Pria itu tersenyum kepadaku dan berkata.
“Hehehe.... kenapa kau menolak tawaranku? Jika kau menerimanya, mungkin hal ini tidak akan terjadi, Wisnu. Baiklah, sekarang kau harus memilih. Sahabat baikmu yang bernama Kristanto, ataukah gadis pujaan hatimu yang bernama Ludwina?” tanya pria itu. Siapa yang harus kupilih? Ludwina? Ataukah Kristanto? Bagiku kedua-duanya sangat berharga dan berjasa didalam hidupku. “Maaf jika aku membingungkanmu, Wisnu. Hehehe....” sambungnya. Jika aku memilih Kristanto, Ludwina akan mati. Jika aku memilih Ludwina, maka Kristanto akan mati. Kulihat mereka berdua meneteskan air mata. Kedua-duanya menginginkan hal yang sama, yaitu mengorbankan dirinya sendiri untuk yang lain. Tapi penyataan mereka hanya membuatku semakin bingung. Otakku mengkalkulasi dan memperhitungkan semua keuntungan dan kerugian jika aku menyelamatkan salah satu dari mereka. Argh... semakin aku berpikir, kepalaku semakin terasa ingin pecah. Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran yang gila. Kutatap wajah pria itu dan tersenyum kepadanya. Kakiku melangkah kearahnya. Wajahnya kebingungan. Entah kenapa setiap kali dia kebingungan, semakin aku ingin tertawa.
“Wisnu,sebenarnya apa yang kau pilih?” dia semakin kebingungan saat aku tertawa kecil sambil melihatnya. Bahkan kedua temanku juga kebingungan melihat tingkahku. Kesempatan inilah yang kugunakan untuk menendang pria itu hingga terjatuh dari kursinya. Segera kupotong semua benang yang melekat pada ujung jarinya. Mungkin aku terlalu bersemangat hingga beberapa jarinya ikut terpotong juga. Saat kuamati lebih dekat, ternyata ada sebuah jahitan di lehernya. Kukunci badannya dengan kursi lalu aku duduk diatas kursi itu hingga dia tidak bisa berdiri lagi. Perlahan namun pasti kupotong jahitan dileher pria itu hingga tak ada lagi jahitan yang terlihat. Aku agak terkejut saat kulihat kepalanya terlepas dari badannya. Matanya masih bergerak dan melirik kearahku. Pria itu juga tersenyum dengan lebar seolah-olah dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Mengetahui bahwa pria itu belum mati, kudekatkan telinganya ke mulutku.
“Aku tidak memilih Ludwina ataupun Kristanto. Aku lebih baik memilih menyendiri daripada harus menyakiti hati salah satu dari mereka.Hwahahahaha..... ” mendengar perkataanku, kedua temanku terdiam dan menatapku keheranan. Karena tatapan itu, aku pun sadar bahwa ini bukanlah diriku. Kulemparkan kepala pria itu jauh-jauh dan berusaha melepaskan kedua temanku. Tubuh pria itu berusaha untuk berdiri dan mendekati kami bertiga. Kuat sekali pria ini. Kristanto meraih batang besi disebelahnya dan menghempaskannya tepat kearah kaki pria itu. Saat jatuh tersungkur, kutancapkan guntingku tepat ke dada kirinya. Noda merah di baju pria itu perlahan melebar hingga mendominasi dua pertiga dari warna bajunya. Tidak sengaja kulihat dua kartu aneh terselip didalam sakunya. Aku teringat dengan perkataan orang itu. Live kard X. Mungkin kard yang dimaksud adalah kartu. Kard dan Card hampir sama, Cuma berbeda huruf depannya saja. Dan X adalah angka sepuluh. Mungkin orang itu ingin mengatakan bahwa kami harus mengumpulkan 10 kartu kehidupan. Namun karena dia sedang sekarat, dia membuat kalimat itu menjadi lebih ringkas. Kupungut kartu itu dan segera pergi dari ruangan ini bersama Ludwina dan Kristanto. Saat berada diluar, kuterangkan mereka berlima tentang kartu yang kumaksud. Kini tujuan kami ada dua, yaitu menyelamatkan Oyi dan mencari ketujuh kartu yang tersisa. Kami semua berunding mana tempat selanjutnya yang kami tuju. Apakah E. Game. H. T sang pesulap, ataukah badut bernama Rekoja?
“Wisnu.” Panggil Ludwina. Kulihat wajahnya ketakutan dan matanya menatap tajam ke arahku. Kami berdua saling menatap satu sama lain. Sial, kenapa disaat seperti ini Gabriel, Kristanto, Brian, dan Michael sudah berada diluar? Keringat dingin mengucur deras membasahi kerah bajuku. Apa yang harus kulakukan sekarang? “Ka....kamu tadi bercanda kan?” sambungnya terbata-bata. Kasihan sekali gadis ini. Karena dia melihat sifat asliku yang tiba-tiba muncul, dia ketakutan setengah mati. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu adalah ‘tidak, aku tidak bercanda’. Tetapi dari dulu aku sangat benci melihat melihat air mata yang menetes dari mata seorang wanita. Kuberanikan diriku untuk menggenggam tangannya seraya berkata
“Aku hanya bercanda kok.” Kulihat wajahnya kembali normal mendengar jawabanku tadi. Kami berdua berjalan menghampiri teman-teman kami yang sudah berada diluar lebih dahulu. Saat aku keluar dari ruangan, kulihat sebuah pemandangan yang aneh. Kami berenam tidak berada di bukit lagi, kini kami berada disebuah daerah yang gelap dan berkabut. Terlihat beberapa mayat yang menggantung pada pepohonan yang kering. Beberapa batu nisan yang agak rusak tertancap diatas tanah yang lembab. Pemandangan ini mirip seperti kota pada film Silent Hill, tapi perbedaannya tidak ada warna lain selain warna hitam dan putih yang mewarnai pemandangan ini. Hawa kematian yang sangat kental menyelimuti kami semua hingga Gabriel ketakutan. Sampai sekarang tidak terlihat tanda-tanda mahkluk hitam yang berusaha mengikuti kami. Sejenak aku berpikir keras. Sebenarnya kami sekarang ada dimana? Ah, itu tidak penting lagi. Yang terpenting kami harus menemukan teman kami yang satu lagi dan segera mencari ketujuh kartu sialan itu. Kulihat ada sebuah rumah yang agak rusak yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat kami berada
0 komentar