• Posted by : Zahra Aisha Dana Jumat, 07 November 2014

    Saat itu aku sedang terbaring di kamarku. Mencoba menutup mata dan tertidur. Tapi sudah ntar berapa jam mata ini masih terbuka, dan telinga selalu panas, mendengar suara gaduh di luar kamarku. Aku pun duduk di pinggir kasurku dan menatap ke arah pintu.
    'prang! trrnk!'
    Suara gaduh itu terdengar semakin keras saja.
    'trak!' aku tersentak saat tiba-tiba pintu kamarku terbuka.
    ''Hei Gerry!, kenapa kau belum tidur?!''
    ''Aku tidak bisa tidur yah, di luar sangat berisik''
    ''Cepat tidur atau kau akan dapat masalah besar!'' 'bragg!' ia pergi dan menutup pintu kamarku.
    Itu ayahku, dia terlihat sangat marah, ntah karena apa.

    Sekarang suara gaduh itu hilang, dan yang terdengar hanya tangisan seorang wanita, apa itu ibuku?, apakah mereka bertengkar?. Pertanyaan itu hilang semua, saat aku rasa aku ingin buang air kecil. Tanpa peduli apa yang terjadi di luar, aku segera berlari ke luar kamar, dan menuju kamar mandi.

    ''Huh... lega...''
    Aku pun keluar dari kamar mandi. Tapi sepertinya sekarang sudah benar-benar sunyi, mungkin orang tuaku sudah lelah mengadu emosi mereka.

    Aku pun berjalan ke kamarku, tapi, saat melewati ruang tamuku. Aku melihat ke arah cermin besar di ruang tamuku, aku melihat seseorang anak kecil di sana. Jantungku berdegup kencang saat anak itu tersenyum dia menatap tajam ke arahku, aku kembali mencoba menatap lebih jelas ke anak itu.
    ''Gerry!''
    ''Ibu???'' aku tersentak saat ibuku memegang bahuku. Ku lihat matanya tampak berkaca-kaca.
    ''Apa yang kau lakukan di sini sayang?''
    ''Emss, ibu... siapa anak itu?'' tanyaku menunjuk ke cermin.

    ''Itu cermin, tentu saja yang kau lihat adalah kau'' ucap ibuku, aku hanya terdia karena anak itu sudah tidak ada.
    Tapi?, apa anak itu aku?.

    ''Ada apa ini?'' Ayahku pun datang dengan wajah bengisnya.
    ''Tidak ada apa-apa'' ucap ibuku.
    ''Gerry!, kenapa kau di sini!, cepat tidur sekarang!!!'' bentak ayahku, aku pun hanya diam dan berjalan ke kamarku.

    Aku pun kembali merebahkan diriku.
    'doghtt...doogrr!'
    Aku tersentak, ada suara ketukan pintu, aku kira itu dari pintu kamarku, ternyata dari pintu lemariku.
    'Dorght!..darg!!'

    Dengan tubuh gemetar aku mendekat ke arah pintu itu, seluruh perasaan takutku seperti telah berkumpul menjadi satu.
    Aku menatap ngeri ke pintu itu, dengan perlahan aku mengangkat tangaku, dan dengan cepat aku menarik gagang pintu itu.
    'Brag!'
    Ketakutanku hilang begitu saja. Tidak ada apa-apa di sini.
    ''Mungkin hanya perasaanku.'' aku pun menutup pintu itu.
    ''Hai?''
    ''Siall!!!'' aku berteriak dan berlari ke luar kamar. Dia, dia anak kecil tadi, dengan wajah menyeringainya, dan dengan mata merahnya, dengan rambut yang terlihat rontok. Tapi perlahan aku berhenti berlari, anak kecil itu terlihat seperti aku, hanya saja wajahnya benar-benar mengerikan.

    'prang!!'
    Pikiran ku teralihkan ke kamar orang tuaku. Suara tangisan, bentakan, barang pecah terdengar dari dalam sana. Aku hanya terpaku dan terus menguping.
    'brag!' pintu kamar mereka terbuka, dan aku terkejut saat ibu ku terjatuh keluar dengan luka kecil di kepalanya. Sepertinya ia pingsan.
    '' Ibu!!''
    ''Gerry!, kenapa kau belum tidur juga?!''
    Aku sangat takut melihat ayahku seperti ini.
    ''Kau telah mengundang masalah anak keparat!''
    Aku pun berlari ke arah kamarku, ayahku dengan berjalan santai ia mengikutiku.
    'Brag!!' aku menutup pintuku, dan mencoba mencari tempat sembunyi. Tidak ada pilihan lagi, akupun bersembunyi di dalam lemari itu.
    Aku duduk gemetar di dalam sana.
    ''Kau.. Tidak akan bisa sembunyi Gerry!''

    Aku pun mulai menangis.
    ''Hei?'' aku tersentak saat mendengar sapaan itu.
    ''kau?'' anak dengan wajah menyeramkan itu ada di sini. Tapi aneh, aku tidak merasa takut sekarang saat melihatnya. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah anak ini, dengan bentuk wajah mirip sepertiku, rambut yang tumbuh tipis dengan luka-luka, mata merahnya dan bibir kanannya yang robek.

    ''Mau ku bantu?'' ucapnya sambil menjulurkan tangannya. Akupun hanya mengangguk kecil, ia hanya tersenyum.
    Perlahan tubuhku terasa sangat letih, mataku mulai berat, dan perlahan semuanya gelap.

    Aku mulai mendapatkan kesadaranku, aku sangat bingung dan terkejut, saat ku lihat ayahku telah tergeletak di depanku, dengan leher yang terkoyak. Darah mewarnai lantai kamarku.

    ''Gerry!!!''
    ''Ibu'' aku segera keluar kamar, ibuku tengah terduduk lemas.
    Aku pun memeluk ibuku.
    ''Ibu, jangan nangis lagi. Mulai sekarang tidak akan ada yang menyakitimu lagi''
    Ibuku pun hanya memelukku erat.

    The End-
    ==========================
    -Kejadian saat ayah Gerry terbunuh-

    Gerry dan anak kecil itu berjabat tangan.
    Ayah Gerry pun masuk ke kamar Gerry. ia tidak melihat Gerry di sekitar, hanya sebuah lemari baju yang tertutup rapat
    ''Keluar kau Gerry!!'' ucap ayahnya sembari membuka pintu lemari itu.
    ''Harrght!!!''
    ''Aaaaarrh!!!'' ayah Gerry pun menjerit, saat seorang anak kecil dengan wajah menyeramkan, melompat dan menggigit lehernya.
    ''Siapa kau!''
    Anak kecil itu terus mengoyak leher sang ayah.
    Ayah Gerry pun terjatuh. Air mata membasahi pipinya, ia menahan sakit.
    akan kecil itu masih terus mengoyak lehernya. Dan perlahan ayah Gerrypun diam tak bergerak. Bersamaan dengan itu, anak itu turun dari tubuh sang ayah.
    Ia berdiam diri, perlahan wajah ngeri anak itu berubah.

    ''Gerry!!!''

    0 komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Raraaa Kawaii Desu Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan