• Posted by : Zahra Aisha Dana Jumat, 07 November 2014

    “Apakah kursi ini kosong?”

    “Tidak!’ sahutnya dengan nada agak tinggi. Aku tertunduk diam dan menyesal karena menanyakan pertanyaan itu. “Aku hanya bercanda, Wisnu. Tempat ini kosong. Kau boleh mendudukinya.” Dia melemparkan senyuman manis ke arahku. Wajahku tiba-tiba memerah. Entahlah... dari dulu aku selalu grogi dan salah tingkah saat berada didekatnya. Seorang pesulap keluar dari kepulan asap hitam. Teknik itu murahan sekali. Ia melakukan beberapa trik kartu seperti Tree-pile False, Reverse Sliparound, Ghost Card, dan beberapa trik lainnya. Di tengah-tengah pertunjukan, sang asisten mendorong sebuah peti mati kedepan panggung dan membukanya perlahan-lahan. Terlihat besi-besi runcing tertata rapi di bagian dalam pintu peti. Pesulap melompat turun dari panggung dan menghampiri seorang wanita paruh baya. Sekuntum mawar hitam tiba-tiba keluar dari tangan pesulap. Wanita itu tersipu malu dan menerima mawar itu. Mereka berdua naik keatas panggung. Tangan pesulap menghipnotis wanita itu dengan mudahnya seperti memejamkan mata seorang yang baru saja wafat. Wanita itu dituntun masuk kedalam peti.

    BLAM..... peti itu tertutup rapat. Seluruh penonton berteriak histeris, bahkan ada yang hampir pingsan. Aku mencium sebuah aroma yang sangat khas. Bau amis dan sedikit bau logam besi tercium hidungku. Ah... mungkin bau ini berasal adi salah satu penonton yang tidak sengaja terluka. Sang pesulap tersenyum puas. Dia mengambil sapu tangan merah berukuran kecil dari sakunya dan mulai melipatnya menjadi 4 lipatan. Setelah itu dia mulai membuka lipatan itu terus menerus hingga membentuk sebuah kain yang ukurannya kira-kira 3x1,5 meter. Sang pesulap mulai merentangkannya bersama dengan asistennya. Keluarlah sesosok wanita paruh baya tadi dari balik kain merah. Semua penonton bersorak sorai atas aksi pesulap itu. Sebuah senyum mengerikan menghiasi wajah pesulap saat melihat Ludwina meneteskan air mata. Tanganku digenggam erat oleh Ludwina. Wajahku memerah karena perbuatannya. Aku terdiam kaku. Dia berusaha menarik tanganku dan mengajakku untuk segera keluar dari tenda pertunjukan. Saat berada diluar, kuberanikan diri untuk menatapnya. Kulihat wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan terlihat sedikit ketakutan.

    “Kau melihatnya?” aku hanya menggelengkan kepala. “Jadi kau tidak menyadarinya?” genggaman tangannya lebih erat dari sebelumnya. Sebenarnya apa yang dia maksudkan? Suara tepuk tangan terdengar dari dalam tenda bersamaan dengan beberapa orang yang mulai keluar dari tenda dengan senyuman puas. “Wanita itu sudah mati! Aku melihat darahnya menetes keluar dari cela-cela peti. Aku bisa melihatnya walaupun hanya sedikit yang menetes.” sambungnya. Aku kaget mendengar kalimat itu keluar dari bibir Ludwina. Apa benar bau yang tadi kucium adalah darah dari wanita itu? Kulihat wanita paruh baya tadi berjalan keluar dari tenda.

    “Jika wanita itu sudah mati, lalu siapa yang keluar dari....” belum sempat kalimat itu selesai, papan nama sang pesulap menghantam keras wanita itu hingga kepalanya hancur. Otaknya berserakan dimana-mana. Semua orang terkejut. Ada yang menangis, ada yang menjerit, ada yang berlari menjauh, dan ada yang terdiam kaku melihat kejadian itu.

    Suara serak-serak basah terdengar dari pengeras suara yang ada ditiap tenda sirkus. “Perhatian perhatian. Kami tau bahwa kalian ketakutan dan kami sudah menghubungi pihak yang berwajib,” beberapa orang sudah bersiap untuk pergi, karena jika ada insiden disebuah pertunjukan. “Tapi mau bagaimana lagi, kami sudah singgah di kota kalian. Pertunjukan harus berlanjut! Jadi silahkan nikmati semua pertunjukan yang kami sediakan sebelum polisi datang untuk merusak sirkus ini. Terima kasih.”

    Sebagian pengunjung pulang, sisanya tetap berada disini untuk menikmati pertunjukan yang ada. Kuputuskan untuk pergi melihat pertunjukan boneka kayu, tepatnya pertunjukan boneka marionette. 15 menit lagi pertunjukan akan dimulai. Seorang pria sedang memainkan dua boneka kayu. Yang satu berbentuk seperti raja, sedangkan yang satunya lagi berbentuk prajurit. Kedua-duanya lengkap dengan sebilah pedang yang melekat pada kedua tangannya. Jemarinya bergerak menarik dan mengendurkan benang dan membuat boneka prajuritnya bergerak menyerang satu sama lain. Aku tidak pernah melihat kejadian seperti ini. Meskipun namanya tidak melegenda, tapi gerakan tangannya sangat kuat dan lihai melebihi masterminder lainnya. Ya, masterminder adalah sebutan untuk pengendali boneka marionette.

    Suara dentingan logam mulai terdengar. Semakin lama, semakin keras. Boneka dengan kostum raja mengayunkan pedangnya dan mengenai tangan boneka prajurit. Astaga! Bagaimana bisa dia memanfaatkan kejadian itu dengan cepat? Saat tangan boneka itu terputus, orang itu berusaha mengarahkan tangan si boneka yang terputus untuk menebas kepala boneka yang berkostum raja. Orang itu tersenyum saat melihatku terkejut.

    “Hehehe.... Kenapa kau kaget, nak?” Pria itu menjatuhkan bonekanya ke tanah dan berjalan menghampiriku. Diberikannya sebuah kartu kepadaku. “Jika kau mau mempelajarinya, ikutlah denganku,” Dia menghela nafas sambil menatap ke langit yang gelap. “Akan kulatih kau hingga bisa mengendalikan orang. Karena mengendalikan boneka lebih mudah daripada mengendalikan manusia,” Sambungnya. Aku bingung. Sebenarnya apa yang dia maksud? Entahlah. Sebenarnya aku ingin bisa mengendalikan boneka marionette dengan lihai seperti mereka. Namun kutolak tawaran itu dengan halus. “Cepat atau lambat kau akan ikut denganku, nak. Hehehe...” gumannya sambil masuk kedalam tenda sirkus. Kini aku bersama dengan Michael, Brian, dan Kristanto. Aku tidak tau kemana ketiga gadis itu pergi.

    0 komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Raraaa Kawaii Desu Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan