• Posted by : Zahra Aisha Dana Jumat, 07 November 2014

    Kami berlima mendekati karavan berwarna biru sambil melihat keadaan sekitar. Kuharap mahkluk itu tidak mengikuti kita. Pintu besi itu berdecit saat terbuka. Ukuran ruang di dalam sangat jauh berbeda dibandingkan dengan ukuran kendaraan. Gelap, lembab dan bau amis. Tanganku merasakan ada sesuatu yang agak kenyal saat berusaha mencari sakelar lampu. Cahaya redup menyinari seluruh ruangan. Kulihat Ludwina menatap dan melemparkan senyuman malu kearahku. Ke...kenapa dia tersenyum? Jantungku berdetak sangat cepat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membalas senyumannya? Aku baru sadar bahwa telapak tanganku menyentuh dada mayat wanita saat kedua sahabatku tertawa terbahak-bahak. Aku hanya bisa tersipu malu. Mayat-mayat bergantungan diseluruh dinding. Lalat berterbangan mengitari tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Kulihat Gabriel berusaha menahan isi perutnya agar tidak keluar. Ludwina menarik berulangkali kemejaku.

    “Wisnu,” bisik Ludwina. “Lihat!” jarinya menunjuk kearah wanita dengan T-shirt hijau yang tergantung dipojok ruangan. Kuhampiri wanita itu dan memeriksa apakah masih hidup atau sudah mati. Terdapat denyut nadi lemah di lengan wanita itu. Michael dan Brian berusaha menurunkan wanita itu, sedangkan aku memeriksa yang lain. Ternyata masih ada 15 orang yang masih hidup. Satu persatu kami turunkan dan menuntun mereka keluar. Saat Gabriel berusaha membuka pintu keluar, lampu berwarna-warni ditengah ruangan menyala terang. Terdengar suara yang tidak asing lagi di telingaku keluar melalui pengeras suara.

    “Halo Wisnu. Kenapa kau tidak segera pulang? Hehehe... relakan saja Kristanto. Dia akan memiliki banyak teman disini,” Itu adalah suara E. Nile. H. T. Dia adalah pemain boneka yang ada di sirkus itu. Untuk apa dia menculik temanku? “Tapi sayangnya kau sudah berada disini bersama-sama dengan temanmu. Hehehe.... Silahkan duduk dan nikmati pertunjukannya.” Untaian benang yang berwarna warni turun dari cela-cela atap dan melekat dengan mayat yang bergantungan di dinding. Satu persatu tubuh itu turun dan bergerak layaknya boneka kayu yang dikendalikan. Dengan gerakan yang lumayan kaku, mereka semua berjalan kearah kami. Gunting sudah kugenggam erat. Kenapa aku harus berada disituasi seperti ini? Jika bukan sahabatku yang mengajak, mungkin sekarang aku bisa bersantai di sofa, mengunyah setoples kacang goreng, dan menonton acara komedi kesukaanku

    Ya. Tadi sore Kristanto, Brian, dan Michael datang ke rumahku dan mengajak keluar untuk menikmati Sirkus yang diadakan di alun-alun kota. Bagaimana aku bisa menolak? Mereka semua adalah sahabat terbaikku. Kami berempat pergi menggunakan sepeda. Terlihat antrian sepanjang 15 meter panjang. Untuk menghilangkan kebosanan karena menunggu, aku, Kristanto, dan Michael mengobrol tentang game perang terbaru. Sedangkan Brian sedang asik mengutak-atik game di ponselnya. Setelah kehabisan materi untuk diperbincangkan, kulirik kanan dan kiriku. Kulihat tiga gadis yang sangat familiar bagiku. Keringat dingin mengalir membasahi kemejaku. Kenapa dia berada disini? Kristanto menatapku aneh.

    “Kenapa kamu?” Aku hanya diam tak menjawab pertanyaan itu dan memberinya kode untuk menengok ke kiri. “Hai... Ludwina, Oyi, Gabriel.” Teriak kristanto sambil melambaikan tangan kearah mereka. Ketiga gadis itu menanggapinya. Sial... kenapa sahabatku yang satu ini menarik perhatian mereka? Setelah mengantri lumayan lama, akhirnya kami berempat dapat masuk kedalam area hiburan itu bersamaan dengan ketiga gadis itu. Kuperhatikan peta area hiburan yang terpaku pada sebuah papan kayu tua sambil menunggu mereka selesai mengobrol. Biasanya sebuah pertunjukan sirkus menyediakan hanya satu tempat untuk semua pertunjukan, namun disini berbeda. Setiap pertunjukan memiliki tempat tersendiri. Setelah mereka mengobrol selama 5 menit, akhirnya mereka sepakat untuk menonoton pertunjukan badut dan pergi meninggalkanku sendirian. Dari dulu aku agak benci dengan badut. Entahlah, mereka selalu memberikan senyuman palsu kepada penonton. Jadi kuputuskan untuk pergi melihat sulap sebelum melihat pertunjukan boneka kayu.

    E. Game. T. H. Nama itu terpampang diatas sebuah tulisan yang berbunyi ‘Tidak ada trik, kecepatan tangan, ataupun sejenisnya. Disini kalian hanya akan menemukan sihir!’ Kedua tulisan itu disebuah papan berukuran 2x6 meter. Aku segera masuk kedalam tenda sirkus berwarna merah tempat diadakannya pertunjukan sulap. Ternyata semua tempat duduk hampir penuh dan tersisa hanya satu bangku saja. Bangku itu berada diurutan yang paling depan. Argh.... kenapa aku harus duduk disebelahnya? Kudekati dia dan memberanikan diri untuk meminta ijin kepadanya.

    0 komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Raraaa Kawaii Desu Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan