- Home>
- CIRCUS (Part 3)
Didepanku terlihat sebuah panggung dengan pemandangan seperti berada di dalam istana. Gerbang kerajaan didobrak oleh 10 boneka pemberontak. Terlihat 7 boneka prajurit datang menghadang para pemberontak. Terjadi baku hantam. Kepala, kaki, dan tangan boneka-boneka itu putus satu persatu. Entah bagaimana caranya, tetapi setiap bagian tubuh boneka itu lepas, mengalirlah cairan merah. Ketujuh boneka prajurit tewas terpotong-potong. Sekarang tersisa 3 boneka pemberontak. Lalu datanglah sebuah boneka berkostum layaknya raja inggris bersama dengan kedua boneka ksatria. Argh... ternyata aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Kugunakan langkah seribu untuk pergi ke toilet dan menuntaskan urusanku. Ah... leganya. Aku mulai berpikir, siapa saja yang mengendalikan boneka sebanyak itu?
Kusobek tenda sirkus dari belakang dengan gunting yang berada disakuku. Tubuhku hanya bisa terdiam kaku keheranan karena mengintip kejadian yang menakjubkan. Satu orang. Maksudku boneka sebanyak itu hanya dikendalikan oleh satu orang. Dan orang itu adalah pria yang aku temui. Disetiap ujung jarinya terdapat beberapa benang yang mengarah ke panggung. Wow. Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Kepala pria itu perlahan-lahan berputar 180 derajat menatap kearahku. Dia hanya tersenyum dan mengangguk kepadaku. Setelah itu kepalanya berputar kembali ke posisi semula dan mulai melanjutkan pekerjaannya sebagaii masterminder. Selangkah demi selangkah kujauhkan diriku dari tenda itu. Tubuhku terhenti karena terhalang sesuatu.
“Woy, kalau jalan lihat-lihat dong.” kudapati Ludwina dan Gabriel berdiri dibelakangku. Ternyata yang kutabrak tadi adalah Ludwina. Aku tersipu malu dan segera memberanikan diri untuk meminta maaf. Gabriel mulai bertanya kepadaku dimana Oyi berada. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Karena daritadi aku tidak melihatnya sama sekali. Kuputuskan untuk tidak melanjutkan menonton pertunjukan boneka itu. Sambil menunggu ketiga sahabatku keluar, aku mulai melahap dan mengunyah berondong jagung yang baru saja kubeli sambil menenangkan diri dibangku taman bersama dengan Gabriel dan Ludwina.
Suara tepuk tangan mulai terdengar. Kulihat Michael dan Brian berjalan keluar dari tenda menghampiri kami. “Kenapa kau tidak kembali? Itu tadi adalah pertunjukan yang sangat keren.” teriak Michael
“Pertunjukan tadi kau bilang keren? Itu bukan hanya keren, tapi luar biasa!” Sahut Brian.
“Jika kau mengetahui siapa yang mengendalikannya, mungkin kau akan pingsan.” Gumanku. Mereka berempat terkejut dan memandangiku dengan pandangan aneh. Mungkin gumananku terlalu keras hingga mereka mendengarnya. Kubangkitkan diriku dan menghampiri Michael.
“Apa maksudmu, Wisnu?”
“Lupakan saja, Brian. Kau tidak akan percaya meski kuceritakan ratusan kali. Oi, Michael. Dimana Kristanto?”
“Entahlah, dia terpisah dengan kami saat pertunjukan selesai.” Sahut Michael. Sebenarnya aku tidak suka terlalu lama berada dikerumunan. Tapi mau bagaimana lagi, sahabatku belum ditemukan. Kuputuskan untuk lebih lama disini untuk mencari Kristanto dan Oyi. Sudah 3 jam berlalu, namun tak satupun tanda keberadaan kedua orang itu. Pengunjung yang lain sudah pergi. Kami berlima berencana untuk menanyakan hal ini kepada pemilik sirkus. Tenda hitam dan diterangi dengan lentera sudah berada didepan kami. Setelah kami masuk, kulihat pria berjubah hitam sedang duduk dan membaca sebuah buku dari kulit hewan.
“Ehm... permisi.” Pria itu menanggapi perkataan Gabriel dengan mengampiri kami. Aku tak bisa melihat wajahnya karena keadaan didalam tenda lumayan gelap. Dia mempersilahkan kami duduk dikursi plastik dan menawarkan camilan yang berada di meja.
“Pak, tau keberadaan kedua teman saya? Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Itu yang mau kau tanyakan, benar?” suara serak terdengar dari balik jubah hitam itu. Bagaimana dia bisa mengetahui pertanyaan yang hendak kukatakan? Aku hanya mengangguk. Sebenarnya siapa mereka ini? Sejak pertama kali datang ke sirkus ini, aku merasakan ada sesuatu yang janggal disini. “Mereka akan segera pulang ke rumahnya, jadi bersabarlah. Jika sampai lewat tengah malam belum menemukan kedua teman kalian, kalian bisa datang ke tempat dimana mobil karavan kami diparkirkan. Tolong jangan mengganggu kami. Kami tidak suka diganggu saat membereskan barang-barang kami.” jarinya menunjuk kearah bukit.
0 komentar