• Posted by : Zahra Aisha Dana Jumat, 07 November 2014

    udwina berniat untuk menyelidiki tenda tempat diadakannya pertunjukan badut. Brian memutuskan untuk bersama dengan kedua gadis itu, sedangkan aku dan Michael pergi ke tenda tempat diadakannya pertunjukan boneka marionette. Kosong. Semua benda yang berada di tenda itu sudah dipindahkan hingga kami bisa melihat setiap sisi tenda. Disini juga tidak ditemukan petunjuk sama sekali.

    “Siapa itu?”

    “Apa maksudmu, Michael? Tidak ada orang disini selain kita dan kau tau itu.”

    “Aku tadi sebuah sosok mahkluk berwarna hitam legam. Mahkluk itu mengikuti kita sejak kita keluar dari tenda hitam itu.” Sahut sahabatku. Kami berdua keluar dan menghampiri Ludwina, Brian, dan Gabriel yang sudah menunggu kami di taman. Gabriel hampir menangis karena Oyi masih belum ditemukan. Aku dengar Oyi sudah menjadi sahabat Gabriel sejak kecil. Ternyata benar apa kata Michael. Mahkluk hitam itu benar-benar ada. Kini dia mendekati kami perlahan-lahan. Daun-daun yang berguguran dan angin yang bertiup pelan membuat suasana semakin seram. Kami berlima segera berlari dan bersembunyi di semak-semak. Kenapa semakin lama keadaan menjadi seperti ini? Aku hanya ingin menikmati pertunjukan sirkus, bukannya ingin ikut uji nyali. Aku mengusulkan untuk segera pergi keatas bukit tempat diparkirkannya mobil karavan para pemain sirkus. Mahkluk itu tetap membuntuti sampai kami tiba ditempat yang kami tuju. Ya. Itu adalah kilas balik hingga kami sekarang berhadapan dengan puluhan mayat yang digerakkan oleh benang.

    Tubuh yang tak bernyawa itu mulai mendekati kami. Gabriel, Michael, Brian, dan ludwina berusaha meraih benda apapun yang berada disekitarnya untuk dijadikan senjata. Gunting sudah kupegang dengan erat. Kupersiapkan diriku untuk menusuk mayat yang akan menyerang kami. Sebenarnya aku ingin segera menyerang mereka, tapi aku juga harus menolong orang ini Oh... ayolah, kenapa gerakan kalian lambat sekali?

    “Cari Live Kard X.” bisik pria yang kugotong. Apa maksudnya? “Biarkan saja kami disini. Temukan Live Kard X agar kau bisa keluar dari alam ini.” Sambungnya sambil menghembuskan napas terakhirnya. Baiklah jika itu maunya. Kurebahkan dia di lantai dan segera menghampiri salah satu dari kumpulan mayat. Gunting yang kubawa mulai menembus daging yang busuk itu berkali-kali. Michael, Brian, dan Ludwina mengikuti apa yang aku lakukan. Mereka memukuli mayat itu secara bertubu-tubi. Entah apa yang dilakukan Gabriel dengan ember itu. Dia menutupkan kepala mayat itu dengan ember, karung, dan sebagainya. Mungkin dia berharap dengan menutupi kepala mayat itu satu pertau, maka mereka tidak akan menyerang kami. Dasar aneh, dia tidak menggunakan logika sedikitpun. Kami seperti melawan musuh yang tidak ada habisnya. Setiap mayat yang jatuh, mereka bangkit berdiri dan menyerang kami kembali. Mungkin. Ya. Mungkin jika kupotong benang-benang itu, mereka tidak akan bangkit lagi. Ternyata sama saja. Saat benangnya terputus, benang-benang yang lain menggantikannya. Meskipun begitu, ada jeda waktu yang cukup lama saat benang yang lain menggantikannya. Seharusnya jika ada boneka, pasti ada dalangnya. Tapi dimanakah dia bersembunyi? Ada dua pintu dipojok sana. Kami berusaha menghindari mayat-mayat itu agar bisa sampai disana. Sial, kedua pintu itu terkunci. Ayo wisnu, kau harus berpikir dengan keras agar bisa menemukannya.

    “Mari kita buat acara ini lebih meriah, Wisnu,” Suara itu berasal dari pengeras suara. Sebuah kunci turun melalui cela-cela atap dan tergantung ditengah ruangan. “Kedua pintu itu bisa dibuka dengan kunci ini. Tapi sayang sekali, kunci yang kuberikan hanya bisa dipakai sekali. Wisnu.....” Tiba-tiba pengeras suara itu mati. Telinga ku mendengar suara bisikan yang sangat jelas berasal dari belakang. Bisikan itu berbunyi, “Temukan aku.” Namun saat aku menoleh ke belakang, hanya keempat temanku saja yang terlihat sedang sibuk dengan tubuh tak bernyawa itu. Kuterobos kerumunan itu menuju ke tengah-tengah ruangan. Meskipun aku mendapat cakaran dan gigitan, tapi aku berhasil mendapatkannya.

    “Wisnu! Kau tergigit. Sebentar lagi kau akan berubah menjadi zombie seperti mereka.”

    “Kau terlalu paranoid, Brian. Ini mayat yang dikendalikan melalui benang, bukannya zombie.” Sahutku sambil melihat sekitar. Aku harus menentukan pintu mana yang harus kubuka. Ada yang memilih sebelah kiri, ada juga yang memilih pintu sebelah kanan. Tunggu sebentar, cela-cela itu tampak seperti ventilasi udara yang terbuat dari pipa paralon berukuran besar. Aku agak kesusahan saat berusaha mencari kemana pipa itu mengarah karena pipa yang tampak hanya sekitar satu persepuluhnya saja. Yes. Akhirnya aku menemukan mana pintu yang benar. Kubuka pintu itu agar kami semua bisa segera masuk ke dalam. Kami masuk secara bergantian sambil melintungi satu sama lain. Tapi sayangnya pintu itu menutup secara otomatis saat kami berdua masuk. Berkali-kali aku mengutuk diriku yang bodoh ini. Seharusnya aku berada di luar sana menghadang kumpulan mayat selagi teman-temanku masuk. Kini Michael, Brian, dan Gabriel berada di luar.

    “Kalian tidak apa-apa?” teriak Ludwina.

    “Tenang saja, kami tidak apa-apa. Cepat temukan Kristanto!” sahut Michael. Kami berlari menyusuri lorong yang lumayan panjang. Lorong ini menuntun kami ke sebuah ruangan yang penuh dengan mayat. Sial, kenapa harus mayat lagi? Ludwina terdiam kaku saat melihat seorang pria dengan puluhan benang berada diujung jari-jarinya. Pria itu tersenyum melihat kami.

    0 komentar

  • Copyright © 2013 - Nisekoi - All Right Reserved

    Raraaa Kawaii Desu Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan